Selasa, 20 Oktober 2015

soekarno



Film karya Hanung Bramantyo ini bercerita tentang Soekarno,
dan berikut adalah nama-nama pemeran dalam film ini.
  1. Ario Bayu sebagai Soekarno
  2. Maudy Koesnaedi sebagai Inggit Ganarsih
  3. Lukman Sardi sebagai Bung Hatta
  4. Tanta Ginting sebagai Sjahrir
  5. Tika Bravani sebagai Fatmawati
  6. Feri Salim sebagai Sakaguchi

Dulunya bernama Kusno tubuhnya kurus dan sering sakit-sakitan. Oleh bapaknya nama Kusno diganti Sukarno. awal cerita dimulai ketika tahun 1929 Pada umur 24 tahun Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara. Dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian Sukarno tidak pernah padam, Cerita berlanjut ke tahun 1940 yang masa dimana soekarno dibuang ke Bengkulu, di Bengkulu, Sukarno istirahat sejenak dari politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati. Padahal Sukarno masih menjadi suami Inggit Garnasih, perempuan yang lebih tua 12 tahun dan selalu menjadi perisai baginya ketika dipenjara maupun dalam pengasingan, Pertengkaran kerap terjadi dalam rumah tangga Sukarno akibat kekecewaan Inggit dan ketidakbersediaannya untuk menjadi madu karena di polgami.
Sementara itu Hatta dan Sjahrir, rival politik Sukarno dimasa muda mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dengan Belanda. Tapi Sukarno punya sudut pandang berbeda. ‘Jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan Jepang untuk upaya meraih kemerdekaan Indonesia’ kata Sukarno. Hatta terpengaruh. Tapi Sjahrir tidak. Bekerjasama dengan Jepang sama saja memposisikan Indonesia menjadi bagian dari Fasisme, musuh Amerika-Inggris-Australia. Sukarno tidak peduli dia yakin dengan pilihannya: bekerjasama dengan Jepang untuk Indonesia Merdeka. Bersama Hatta, Sukarno berupaya mewujudkan cita-citanya mewujudkan Indonesia Merdeka. Anak-anak muda pengikut Sjahrir mencemooh Sukarno-Hatta sebagai kolaborator, menjual bangsa sendiri ke tangan Fasis, Jepang saat itu mulai memasuki wilayah Indonesia khususnya Jawa (1942) dan membawa perubahan radikal dan sistemik dalam kehidupan sosial dan politik Bangsa Indonesia saat masih dijajah oleh Pemerintahan Belanda. Pemerintahan Jepang mendekati Sukarno untuk mendukung propaganda Jepang yaitu 3 A yang terdiri dari Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia. Karena propaganda tersebut tidak berhasil, Jepang kemudian menarik perhatian rakyat Indonesia dengan mendirikan tentara PETA (Pembela Tanah Air). Namun pendirian PETA ini dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh pergerakan untuk menjadi pasukan yang kelak dipakai untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang dan menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada.
Sukarno, Hatta, Syahrir kerap terlibat diskusi dan perdebatan dalam melawan pemerintahan Jepang. Sukarno memilih jalan kooperasi (kerja sama) sementara Syahrir memilih jalan perlawanan fisik melalui PETA. Hatta berdiri netral sambil memberikan apresiasi terhadap kedua pandangan sahabat-sahabatnya itu.
Tanggal 8 September 1944, bendera Merah Putih diijinkan berkibar namun  hanya di wilayah Jawa saja. Saat itu pemerintahan Jepang telah  memberikan hadiah kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia namun pemerintahan Jepang di Indonesia tidak segera melakukan penyerahan melainkan mempersiapkan teknis secara bertahap melalui panitia persiapan kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, Peta perpolitikan duniapun berbalik arah dengan dijatuhkannya bom atom oleh Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang termasuk golongan yang tidak di untungkan dalam hal ini. Sehingga pemerintahan Jepang di Indonesia pun bergejolak. Akhirnya momentum ini dijadikan kesempatan oleh bangsa Indonesia untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia, sehingga kemudian di umumkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 agustus 1945 dan film ini ditutup dengan kisah heroik dan mengharukan saat naskah Proklamasi dibacakan dan bendera merah putih buatan Fatmawati dikibarkan. Bangsa Indonesia bersorak dan bersukacita atas kebebasan yang diproklamirkan, Inggit yang menenun sepi di Bandung pun turut bergembira atas berita kemerdekaan ini Indonesia baru telah ditandatangani dan diproklamirkan, sebuah pintu masuk menuju jembatan emas – sebagaimana tulisan Sukarno- baru saja dimulai.

                                   

                                                                                                                                                                                                                                                                        BY ENGGARIP 1C



Senin, 19 Oktober 2015

tugas tanggapan



                   BAHASA YANG EXOTIS
1. saya menanggapi  dewasa ini banyak masyarakat  yang kurng sadar akan perjuangan para pahlawan dahulu kita seenakknya sendiri bahkan tak ada ingatnya kepada para pejuaang yang telah berusaha memerjuangkan hak kita dahulu . kita hanya bersenang senang berfoyafoya , ya memang kita setiap tahun merayakan kemerdekaan tetapi kita hanya ambil dari posisi kesenanganya saja tidak dari sisi susahnya , lihat saja pada masyarakat yang ada saat ini  dangdutan hal itu menimbulkan kerusuhan menjadikan banyak orang yang minum minuman keras , itu sangat tidak mendidik sama sekali untuk generasi muda.
2. puisi yang telah bapak poskan bahasanya exotis , keren , sangat menyentuh hati pak romance banget pak saya terinspirasi semua puisi bapak tetapi sayang nya saya tidak terlalu mengerti bahasa bapak ... terima kasih
3.jadi dosen itu jangan seperti tukang becak .... menurut apa yang di post kan pak naka , Dosen yang bukan yang hanya mengajar dan yang hanya  menunaikan tugas pengajar , dan harus menganut tri dharma peneladanan Apa guna pengajaran tanpa peneladanan, apa guna penelitian tanpa peneladanan, dan apa pula guna pengabdian tanpa peneladanan? Mahasiswa yang harus di ajar semua itu tetapi bukan hanya sekadar mengajar saja ya agar mereka tidak akan kebingungan ketika berhadapan dengan bangsa lain terkait kompetisi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, sosial, politik, keamanan, prestasi olahraga, kekayaan budaya, dan lain sebagainya.....


Selasa, 13 Oktober 2015

menggenggam kenangan



                                                Nama   : Enggar Ikhtianti P
                                                Kelas   : 1 C   
                                                Nim     : 1410139

                        Mengancam Kenangan
Di suatu pagi yang terlihat gelap . Matahari malu-malu untuk mengucapkan selamat pagi. Tangan setengah tua menggenggam gagang sapu dan tak sama sekali terlihat gemetar untuk menyapu  teras rumahnya. selamat pagi pada Nyonya , tapi ia asik dengan kegiatannya menyapu, Nyonya meluangkan waktu di pagi hari hanya untuk menyapu. Pgi bertanya kepada nyonya “ tidakkah kau lelah harus selalu menyapu setiap pagi dan besok pagi sudah kotor lagi” nyonya menjawab ”Ini bukan tentang lelah atau bosan. Bagaimana aku menyapu teras ini adalah bagaimana lapangnya dadaku”, Setelah selesai di terasnya, ia segera masuk rumah. Tidak untuk beristirahat, tapi untuk menyampaikan ucapan selamat pagi pada pigura yang berjajar di ruang tamu. Nyonya mengusap pigura satu-persatu. Di setiap usapannya tangan nyonya di seluruh sisi pigura satu-satunya yang hafal pada kebiasaan nyonya ini adalah debu-debu yang menempel di sana, juga debu yang berdiam di sudut ruang tamu, mengapa nyonya selalu mengusap debu di pigura yang tak bisa bicara  itu ?? Nyonya tidak ingin di dengarkan, dan tidak ada yang perlu diperdengarkan. Apa lagi yang harus diceritakan  jika seisi rumah ini pun sudah tahu ceritanya, Namun, rupanya Nyonya lebih suka mengusap pigura daripada mendengarkan lagi cerita yang berulang dari debu. Kami tahu bagaimana kau bercerita pada pagi yang selalu membawa ia hadir lagi dalam pelukanmu, Nyonya. Kami tahu betapa kau membenci pagi yang selalu datang bersama kenangan. Karena ketika pagi tiba, menandakan kau harus memulai hari untuk berdamai lagi dengan kenanganmu “Aku dan kenangan tidak pernah bermusuhan, jadi aku tidak pernah berdamai juga”
Nyonya lebih suka mengusap pigura daripada mendengarkan lagi cerita yang berulang dari debu. Nyonya berkata “aku tidak sedang mencoba berdamai dengan apa dan siapapun karena aku tidak pernah bertengkar. Bukankah tidak perlu juga aku ceritakan tentang malam-malam yang tidak mau datang lagi karena terlalu takut padaku. Kita kan juga tidak sedang bertengkar, maka tidak perlulah berdamai.” kenangan itu merupakan tiga pigura di ruang tamunya yang selalu ia ganggu ketika pagi tiba sampai siang terik datang. Atau mungkin dalam pigura itulah sesungguhnya kenangan.
Tapi yang seisi rumah tahu  kenangan Nyonya adalah sebuah pelukan terakhir dan telapak kaki di teras. Suara-suara berdebum yang merebut pelukannya dan kerikil tajam yang melukai, di lain waktu, Nyonya menemukan bayangan terhempas di terasnya bersama daun-daun gugur, Nyonya tidak pernah mengijinkan siapapun untuk menggeser pigura itu, ” Biarkanlah ia tetap pada tempatnya. Tidak pernah ia coba mengusik dan memusuhiku”, Nyonya terjebak pada pelukannya di teras rumah. Memeluk dirinya sendiri erat-erat
Biarkan saja rindu ini menggunung, lalu kau dapat mendakinya hingga awan dan meretaskan hujan keresahan.”
Kemudian Ia teringat tubuh wanita yang tenggelam penuh ke dalam air, begitu bening hingga Ia bisa melihat jelas setiap lekuk tubuh wanita itu, di hari-hari lain ketika wanita itu tidak ada di dalam bak mandi, Ia hanya akan melangkah ke dalam sana dan merasakan air menenggelamkan seluruh tubuhnya sendiri Wanita itu selalu bertanya seperti ingin tahu. Mungkin bagi wanita itu, pertanyaan adalah segalanya yang bisa meredakan remuk redam Namun, wanita itu sungguh tidak pernah alasan Ia mencari sedangkan Ia selalu kehilangan tubuh sang wanita wajah wanita itu berkerut wanita itu bertanya-tanya apa yang Ia lakukan di hadapannya.
            Nyonya tidak bisa memilih akan menangis sedih atau bahagia. Sedih karena kenangannya seketika seperti menepi. Bahagia karena kenangannya ada di depan mata.
Anak lelaki yang Nyonya ceritakan pada dinding-dinding dan debu yang berpendar di lampu kamarnya menjejakkan kaki di teras rumah, di dalam cerita ini, lelaki ditindas wanita,wanita juga ditindas oleh laki-laki. Secara menyeluruh perempuan adalah yang berkuasa tetapi juga perempuan adalah korban. Derita laki-laki dan derita wanita semuanya sama. Jangan jadikan kenangan yang pahit itu sebagai ancaman. Tak semua yang pahit itu buruk . Dan yang buruk itu bukan untuk diingat-ingat tapi untuk dijadikan ajaran hidup di masa yang akan datang.
*teater ini di sutradarai Ibrahim Bra
Aktris : Elina Azahra, Imam Mahfudz,Diajeng Roro, Iruka Daniswara, Reza Akbar






           




           

INOVASI OLAHAN JAMUR BERGEDEL JAMUR DAN NUGGET JAMUR

RESEP   BERJEMUR (bergedel jamur)   Bahan : ·          1 kg jamur segar ·          4 siung bawang putih ·          5 siung...